Di zaman modern, hampir semua orang sibuk.
Namun, tidak semua orang sadar.
Kesibukan sering disalahpahami sebagai kehidupan.
Produktivitas dianggap sebagai makna.
Padahal, keduanya tidak selalu sejalan dengan kehadiran batin.
Psikologi modern dan filsafat kontemporer mulai memberi nama pada kegelisahan ini:
absence of awareness — hidup yang dijalani, tetapi tidak benar-benar dialami.
Kesadaran dalam Perspektif Psikologi Populer
Dalam bukunya The Power of Now, Eckhart Tolle menjelaskan bahwa sebagian besar penderitaan manusia bukan berasal dari peristiwa, melainkan dari pikiran yang terus mengulang masa lalu dan mencemaskan masa depan. Ketika perhatian tercerabut dari saat ini, manusia hidup dalam mode otomatis.
Hal ini sejalan dengan temuan psikologi kognitif modern yang menyebut kondisi tersebut sebagai mind wandering. Penelitian menunjukkan bahwa pikiran yang terus mengembara sering kali berkorelasi dengan stres, kecemasan, dan ketidakpuasan hidup—bahkan ketika seseorang sedang melakukan hal yang menyenangkan.
Dengan kata lain, kita bisa melakukan banyak hal, tanpa benar-benar berada di sana.
Kesadaran Bukan Berarti Lambat
Kesadaran sering disalahpahami sebagai sikap pasif, lamban, atau tidak ambisius.
Padahal, kesadaran justru adalah kejernihan sebelum bertindak.
Dalam Thinking, Fast and Slow, Daniel Kahneman membedakan dua sistem berpikir manusia:
- Sistem 1: cepat, intuitif, reaktif
- Sistem 2: lambat, reflektif, sadar
Kesadaran adalah kemampuan untuk memberi jeda—agar Sistem 2 sempat bekerja.
Bukan untuk mematikan naluri, tetapi untuk tidak diperbudak olehnya.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari:
- kita tidak berhenti bekerja,
- kita tidak berhenti berprestasi,
tetapi kita tahu mengapa kita melakukannya.
Antara Ego, Makna, dan Kehadiran
Banyak kelelahan emosional lahir bukan karena beban kerja semata,
melainkan karena makna yang kabur.
Viktor Frankl, dalam Man’s Search for Meaning, menunjukkan bahwa manusia mampu bertahan dalam penderitaan ekstrem ketika ia memahami untuk apa ia hidup. Tanpa makna, bahkan kenyamanan bisa terasa hampa.
Kesadaran, dalam konteks ini, bukan hanya soal fokus pada saat ini,
tetapi juga kesadaran akan nilai yang sedang kita layani.
Bangius dalam Posisi Ini
Bangius tidak menolak kesibukan.
Bangius tidak memusuhi ambisi.
Bangius hanya mengajukan pertanyaan sederhana:
“Apakah aku sedang hidup,
atau hanya menyelesaikan daftar?”
Kesadaran bukan tujuan akhir.
Ia adalah cara berjalan.
Penutup
Di tengah dunia yang semakin cepat,
kesadaran adalah bentuk keberanian yang sunyi.
Berani berhenti sejenak.
Berani jujur pada motif.
Berani hadir sepenuhnya.
Dan mungkin, dari situlah hidup mulai terasa utuh.
— Bang Ius
